MENENTANG_TAKDIR

MENENTANG_TAKDIR

#PART_4

Pagi ini aku akan bertolak ke Jakarta bersama Fadil dan keluarganya. Mungkin aku akan merasa sedikit lega karena tidak akan melihat Hakim dan Madya lagi untuk sementara waktu. Tapi hatiku? Perlu waktu untuk menerima  semua yang sudah terjadi.

“Jihan, jaga dirimu baik-baik. Nanti tanggal pernikahan akan segera kami kabari. Mungkin dalam waktu dekat,” ujar Abi.

“Apa tidak bisa menunggu sampai kuliahku selesai, Bi?” Harapku.

“Tidak. Itu terlalu lama. Pernikahanmu lebih penting. Kalau rasanya mengganggu...kamu berhenti saja kuliahnya.” Jawaban Abi tegas.

Aku membelalakkan mata, “berhenti? Apa tidak ada pilihan lain, Bi?” Rengekku.

“Jihan,” Umi menengahi, “jangan membantah Abi. Semua demi kebaikanmu,”

‘Apa? Kebaikanku atau kebaikan mereka?’ batinku.

Aku diam, tak lagi menjawab. Hanya menahan rasa kesal dalam hati.

Kemudian dengan malas aku memeluk mereka satu persatu. Abi, umi, Madya...lalu saat sampai pada lelaki itu aku hanya menangkupkan tangan di dada, begitupun yang ia lakukan.

“Jaga adikku baik-baik!” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirku.

Sempat kulihat ia hanya mengangguk pelan.

Kemudian aku bergegas masuk ke dalam taksi yang akan mengantar kami ke bandara. Fadil dan keluarganya sudah menunggu di dalam.

Aku memandang mereka yang mengiringi kepergian kami. Bahkan ketika mesin beroda empat itu bergerak perlahan, kulihat Hakim menyeka sudut matanya, dan mencoba terenyum meski terlihat sekali kalau itu dipaksakan. Perih rasanya. Tapi aku tak kuasa berbuat apa-apa. Hanya bisa berdoa semoga mereka bahagia meskipun dada terasa sesak.

[Jaga dirimu baik-baik...kak Jihan]

Sebaris pesan yang masuk ke ponselku benar-benar membuat air mataku akhirnya jatuh. Azizah memegang tanganku erat, seolah ia tahu apa yang sedang kurasakan. Mungkin juga dia memang sudah tahu dari Fadil tentang apa yang sudah terjadi.

“Semua akan baik-baik saja, Jihan. Percayalah!” lirihnya.

Aku mengigit bibir bawahku, berusaha agar luka ini tak terlalu sakit rasanya. “Tapi rasanya begitu sakit, Kak,” sahutku dengan suara hampir tak terdengar.

Fadil yang duduk di depan menoleh ke belakang, lalu ia juga mengulurkan tangannya padaku dan ikut menggenggam tanganku. “Ingatlah bahwa sabar dan shalat adalah sebaik-baik penolong.” Ucapnya lugas. “Ada abang dan kakakmu yang akan membantu merawat luka itu. Kamu nggak sendiri,”

Aku hanya terdiam mendengar ucapan Fadil. Ya, hanya Fadil yang sangat mengerti aku. Sejak aku masih kecil ia sangat menyayangiku. Selalu melindungi dan tak sedikitpun pernah menyakitiku. Hingga kini saat kami telah dewasa, rasa itu masih sama. Ia tak pernah berubah.

“Tapi aku nggak mau berhenti kuliah, Bang,” ujarku diantara isak tangis, “abi terlalu egois, selalu mementingkan diri sendiri.”

“Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu. Walau bagaimanapun dia orang tua kita. Kalau soal kuliahmu, masih bisa kita bicarakan nanti. Yang jelas sekarang kamu jalani saja hari-harimu seperti biasa. Minta sama Allah apa saja yang kamu inginkan.” Pungkasnya.

Aku menarik napas panjang, berusaha menghentikan tangis yang masih terasa menyesak di dada. Fadil benar, aku harus berusaha menjalani hari-hariku seperti biasa. Menunggu takdir yang telah digariskan untukku.

  ***

Sebulan berlalu.

Aku baru saja sampai di rumah selepas zuhur berlalu saat melihat Azizah sibuk menata makanan yang lumayan banyak di meja makan.

“Banyak banget Kak makanannya? Mau ada tamu’kah?”

Azizah tersenyum sumringah. “Iya, kita ada tamu spesial hari ini,” ia mencolek pipiku sebelum kembali ke dapur. Aku pun mengekorinya.

“Siapa sih, Kak?” tanyaku seraya mengambil minuman dingin dari lemari es.

“Mau tahu aja atau mau tahu bangeeet?” Godanya.

“Ishhh, pake rahasia-rahasia segala,” aku ngeloyor pergi seolah tak peduli menuju kamar dengan segelas minuman dingin di tangan.

“Amran dan Hakim datang hari ini.” Ucap Azizah. Seketika langkahku terhenti. Membalikkan tubuh dan memandang heran pada Azizah.

“Mereka udah di sini sejak kemaren, nginap di Hotel. Katanya mereka mau membeli sesuatu untuk persiapan pernikahanmu dan Amran,” Azizah kembali membawa beberapa piring di tangan.

Tenggorokanku tercekat. “Apakah tanggal pernikahan sudah ditetapkan?”

Wanita berparas manis itu menatapku, lalu mengangguk. “Iya, sudah. Dua hari yang lalu abimu sudah mengabarkan pada abangmu. Apa dia belum memberitahumu?”

Aku menggeleng. “Belum, Kak.”

“InsyaAllah akhir bulan ini, kurang lebih tiga minggu lagi kayaknya. Kakak lupa tanggal persisnya. Nanti tanya sama abangmu, ya? Dia lagi jemput Hakim dan Amran ke hotel,”

Kemudin aku kembali melangkah menuju kamar. Menutup pintu, mendaratkan tubuhku di tepi ranjang. Lalu meneguk minuman dingin itu hingga setengahnya. Entah aku harus bahagia atau sedih dengan rencana pernikahan ini.

Kuletakkan gelas di atas nakas dan membaringkan tubuh yang terasa lelah. Entah sampai berapa lama aku tertidur hingga aku terbangun ketika Azizah mengetuk pintu.

“Jihan, kakak masuk ya?”

“Iya Kak, masuk aja!” Sahutku dengan suara serak khas orang bangun tidur.

“Kamu tidur? Maaf ya, kakak jadi bangunin kamu,” ujarnya saat ia sudah berada di dalam kamarku.

Dengan malas aku pun bangkit. “Nggak apa-apa Kak,”

“Kamu belum mandi ya? Tidur sampe nggak ganti baju begitu,”

Aku cuma nyengir.

“Sana mandi dulu, Amran dan Hakim udah datang.”

“Lalu? Emangnya kita mau makan bareng sama mereka?”

“Ya enggak sih, itu mereka sudah hampir selesai makannya. Katanya kamu mau nganter Lathifah ke toko buku, udah jam tiga lo ini,” Azizah mengingatkan.

Aku menepuk dahi. “Astaghfirullaah...iya Kak, aku lupa. Ya udah suruh siap-siap ya Kak, aku mandi dulu,”

“Udah siap dari tadi malahan, dia udah nggak sabaran nungguin Ammah-nya. Mukanya udah cemberut,”

Aku tertawa kecil membayangkan wajah perempuan berusia tujuh tahun itu. “Iya, iya maaf...bentar ya Kak aku mandi dulu,” aku pun bangkit dan bergegas masuk ke kamar mandi.

Setengah jam kemudian aku sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian. Gamis dan jilbab coklat tua, warna kesukaanku.

“Lathifah-nya mana Kak?” tanyaku saat melihat Azizah merapikan meja makan.

“Tuuh udah nungguin di mobil,”

“Ya Allah, beneran nggak sabar dia. Ya udah Kak, aku jalan dulu ya?” Aku menyalami tangan Azizah dan menciumnya penuh hormat.

“Iya, hati-hati ya? Jangan ngebut! Pulangnya juga jangan kemalaman,”

“Iyaaa, kakak bawel,” sahutku sambil mencubit pipinya gemas. Azizah hanya tertawa kecil sambil meringis.

Aku melangkah meninggalkannya. Saat akan melewati ruang tamu, langkahku terhenti saat mataku bertemu pandang sejenak dengan Hakim. Laki-laki itu segera membuang pandangan, begitupun denganku. Amran pun demikian, ketika menyadari kehadiranku dia hanya tersenyum sesaat sebelum kemudian juga mengalihkan pandangannya.

“Bang, Jihan jalan dulu ya?” Pamitku pada Fadil. Menyalami dan mencium tangannya.

“Lho? Mau kemana sore begini?” Fadil tampak heran.

“Mau ke toko buku bentar nganter Lathifah,” sahutku.

“Ooh, ya udah. Hati-hati ya, jangan ngebut, jangan kemalaman.” Hufft! Kata-katanya hasil nyontek Azizah.

“InsyaaAllah,” sahutku singkat. Lalu pandanganku mengarah pada Amran dan Hakim, “saya jalan dulu, Mas Amran, Hakim.”

“Iya, silahkan,” jawab mereka hampir serentak.

Aku pun berlalu meninggalkan tiga lelaki itu.

“Jihan!” Sebuah suara membuatku mengurungkan niat untuk membuka pintu mobil. Aku membalikkan badan, dan melihat Amran sudah berdiri di sana.

“Ada apa?” Tanyaku tanpa memandang wajahnya. Canggung rasanya karena ini pertama kalinya dia menegurku.

“Maaf, kalau abang lancang. Tapi abang berdiri di sini sekarang sudah seizin abangmu,” ujarnya, “abang hanya ingin bertanya sesuatu, karena waktu itu kamu tidak bicara apa-apa saat pertemuan kita,”

“Mau bertanya apa? Jangan lama-lama ya? Kasihan Lathifah udah nungguin,”

“Oh, ya sudah kalau gitu. Kamu jalan aja dulu! Abang tunggu kamu pulang!” Pungkasnya.

“Baiklah, aku pergi dulu. Assalaamu’alaykum!” aku pun masuk ke dalam mobil tanpa basa basi.

“Wa’alaykumusalaam, hati-hati Jihan!”

Hanya anggukan sebagai jawabanku. Lalu membawa mesin beroda empat itu bergerak meninggalkan halaman rumah. Membelah jalanan ibu kota yang mulai ramai karena jam pulang kantor sudah di mulai.

Amran, dia memang terlihat baik. Dia memiliki segalanya. Tapi sayangnya hatiku belum mampu menerima kehadirannya. Dia sepupu jauh dari Hakim, usianya juga lebih tua dari Hakim. Ah, dia terlihat begitu sempurna di mataku. Bagaimana mungkin dia bisa memilihku sebagai istrinya? Dalam segi fisik saja kami begitu jauh berbeda, apa dia tidak malu punya istri sepertiku? Karena aku tidak seperti Madya, yang begitu sempurna sebagai seorang wanita.

    ***

Baru saja aku menyelesaikan tilawah saat terdengar tiga lelaki itu kembali dari masjid untuk menunaikan shalat Isya.

[Maaf jihan, sepertinya tidak memungkinkan untuk kita bicara, karena sudah malam, besok kami pulang jadi harus segera siap-siap. Mungkin pertanyaannya abang simpan saja sampai kita menikah nanti, akan lebih leluasa untuk kita bicara dan tidak ada syaithan yang akan ikut campur. Abang pamit dulu, jaga diri dan jangan suka keluyuran. Ini Jakarta, tidak baik untuk wanita sepertimu sering keluar tanpa mahram begitu. Oh ya, ada hadiah kecil untukmu, abang titipkan sama bang Fadil. Assalaamu’alaykum]

Beberapa baris pesan tertera di layar ponselku. Meski nomor itu tidak kukenal, tapi aku yakin itu adalah Amran. Tak ada niat untuk membalas pesan itu, hingga ponsel kuletakkan kembali di atas tempat tidur. Menarik napas dan mengembuskannya perlahan.

“Dia bilang aku keluyuran? Memangnya aku wanita apaan?” Desisku kesal.

[Jihan, aku pamit ya. Jaga diri baik-baik]

Satu pesan singkat dari Hakim. Ah, lagi-lagi dia! Tak bisakah dia bersikap cuek padaku? Nggak usah gini juga, pake pamit segala. Bikin nyesek aja!

Kembali tak ada niat untuk membalas. Aku lebih memilih mengutak atik laptop untuk mengerjakan beberapa tugas kuliah. Dari pada pikiranku tertuju pada adik iparku itu lagi.

***

“Jihan, abang masuk ya?” Terdengar suara Fadil.

“Iya bang, masuk aja nggak di kunci,”

Dan Fadil muncul, ditangannya ada sebuah kotak kado yang cukup besar.

“Kamu nggak makan dulu?”

“Tadi udah makan di luar sama Lathifah,” sahutku sambil tetap memainkan jari-jariku di atas keyboard.

Fadil mendekat dan menyodorkan kado yang tadi di bawanya.

“Amran menitipkan ini untukmu tadi,”

Aku menatap lekat kado itu. Dengan ragu mengambilnya dari tangan Fadil.

“Pernikahanmu tiga minggu lagi.”

“Iya Bang, aku tahu. Tadi kak Zizah sudah bilang,” sahutku pelan tanpa memandang wajahnya.

Terdengar helaan napasnya. Lalu ia mengusap kepalaku. “Semua akan baik-baik saja,” ucapnya.

“Oh ya, tadi abang sempat menanyakan perihal kuliahmu pada Amran. Katanya biar itu di bicarakan setelah menikah, karena itu akan jadi urusan kalian berdua nantinya,”

“Iya Bang, nggak apa-apa. Terima kasih,” ucapku.

“Ya sudah, abang mau tidur dulu. Ngantuk banget. Kamu juga tidur, jangan begadang, bentar lagi mau jadi pengantin,” selorohnya.

“Apaan sih!” Hampir saja lengannya kucubit kalau saja ia tak berhasil menghindar. Kemudian tubuhnya hilang di balik pintu kamarku.

Suasana kembali hening. Kupandangi kado yang terletak di atas mejaku. Perlahan aku membuka tutupnya. Dan...MaasyaaAllah! Mataku membesar saat melihat isinya. Sepasang gaun pengantin ala India muslim berwarna maroon kombinasi gold. Ini pernah kulihat disebuah olshop dan harganya lumayan, jutaan. Dan sekarang benda itu ada di hadapanku. Amran memberikan ini untukku? Bagaimana dia tahu tentang pernikahan impianku?

Ada secarik kertas kecil terselip di dalamnya.

‘Aku tahu tentang pernikahan impianmu dari Fadil beberapa hari yang lalu. Dan aku sengaja datang ke Jakarta hanya untuk mencari gaun ini. Pakailah disaat hari pernikahan kita, aku ingin melihatmu dengan gaun ini setelah ijab qabul di ucapkan.’

*** To be Continued

Komentar