MENENTANG_TAKDIR

MENENTANG_TAKDIR

#Part_3

Tok!Tok!Tok!

“Jihan, umi boleh masuk?” terdengar suara umi dari luar kamar.

“Boleh Umi, masuk aja nggak di kunci kok,” sahutku sembari mengikat rambut.

Tak lama wajah ayu itu muncul. Beliau tersenyum, melangkah mendekatiku.

“Udah siap, Nak?”

“Udah, Mi. Tinggal pasang kerudung, kok,” sahutku sambil membalas senyumannya.

Umi duduk di sisi ranjangku. “Jihan, duduklah sebentar di sini, ada yang ingin Umi sampaikan,” pintanya. Kulihat raut wajah umi sedikit risau.

Tanpa menunggu aku langsung mematuhi perintahnya. Kami saling berpandangan. “Ada apa, Mi?”

Tangannya menyentuh pipiku, bibirnya bergetar seolah menahan tangis. “Maafkan Umi,” lirihnya.

Dahiku berkerut. “Ada apa Umi? Apa yang terjadi?” kuusap air mata yang jatuh di sudut netranya.

“Maaf kalau Umi tidak jujur mengenai Hakim dan Madya,”

Aku semakin tidak paham arah pembicaraan Umi.

“Sebenarnya waktu itu orang tua Hakim salah dalam...melamar,” suara Umi terbata. Kubiarkan ia menuntaskan kalimatnya. “Seharusnya yang ia lamar adalah kamu, tapi...”

“Tapi apa Mi?”

“Tapi orang tua Hakim tidak sadar kalau sesungguhnya wanita yang di tuju Hakim adalah kamu bukan Madya,”

Aku menahan napas, terngiang ucapan Hakim tadi pagi.

“Tapi karena Hakim lupa menyebutkan namamu, sehingga mereka mengira bahwa Madya-lah yang dimaksud Hakim. Karena kebetulan waktu itu hanya Madya yang ada di rumah, dan Madya langsung menerima lamaran itu. Sebab Madya bilang kalau sebenarnya ia sudah lama juga menaruh hati pada Hakim, jadi...Umi tak kuasa membatalkan lamaran itu saat orang tua hakim memberitahu umi bahwa mereka salah orang, umi takut kalau...kalau Madya terluka. Apalagi Hakim akhirnya mau menerima Madya meskipun awalnya dia keberatan,” ada beban yang begitu berat terdengar dari setiap kata yang ia ucapkan.

 Rumit kedengarannya, tapi begitulah yang namanya takdir. Harus ada yang dikorbankan demi kebahagiaan seseorang. Bahkan Hakim sendiri rela mengorbankan itu semua agar Madya tidak terluka.

“Nggak apa-apa, Mi. Lagian, Madya lebih cocok buat Hakim. Dia lebih cantik, pintar, periang...sedangkan aku?” Aku menertawai diriku. “Meskipun orangtuanya tahu kalau sebenarnya aku yang Hakim tuju, mereka takkan mau. Siapa yang mau punya menantu sepertiku? Hanya seorang wanita biasa, tidak menarik dari sisi manapun, yang selalu mementingkan pendidikan. Mana pantas bersanding dengan anaknya yang tampan itu,”

“Jihan!” Umi menarikku kedalam pelukannya. Ia menangis. “Hentikan! Jangan berkata seperti itu lagi, cukup!”

“Tapi memang begitu kenyataannya kan, Mi? Madya selalu nomor satu dalam segala hal, sedangkan aku?” Suaraku sedikit meninggi karena ego sedang menguasai.

“Tidak Jihan, demi Allah jangan bicara seperti itu!” Umi melepas pelukannya dan menatap nanar mataku. “Kalian semua sama dimata Umi, baik itu kamu, Madya maupun Fadil. Tak pernah ada niat untuk membedakan kalian. Ini semua takdir, Jihan.”

“Bahkan dalam soal jodoh pun aku harus mengalah,” lirihku, “padahal aku sangat menyukai lelaki itu,”

“Tapi kamu tidak pernah mengatakan apapun tentang Hakim pada Umi, Nak.”

“Karena aku berniat mengatakannya setelah S2-ku selesai, Mi!”

Umi menggeleng, “tapi semua sudah terlambat Jihan, Umi minta maaf, andai umi tahu dari awal, tentu semua tidak akan terjadi,” ia terisak.

Aku menarik napas panjang, menatap wajah Umi yang penuh lelahan air mata. Menyesal karena barusan aku telah mendebat wanita ini. Astaghfirullaah!

Kuraih tangan Umi. “Mi..., maaf kalau kata-kataku tadi tidak berkenan di hati umi,” air mata mulai berjatuhan di pipiku.

“Tidak, kamu tidak salah. Kami yang salah sebagai orang tua. Maaf jika kamu harus berkorban demi Madya, dan maafkan umi jika harus menceritakan ini padamu sekarang. Karena umi tak ingin menanggung rasa bersalah seumur hidup jika kamu tidak mengetahui kebenaran ini,” Umi kembali memelukku. Erat.

“InsyaaAllah, aku tidak apa-apa.” Sungguh jawaban yang penuh dengan kebohongan demi memperlihatkan ketegaran seorang Jihan.

   Umi melepas pelukannya dan mengusap air mataku dengan tangannya. “Sebentar lagi Amran datang,” Umi mencoba tersenyum meski terlihat getir. “Pergilah ambil wudhu agar wajahmu kembali segar dan cepat kenakan kerudungmu, Umi akan menunggu di bawah,”

Aku mengangguk patuh meski hati terasa ada yang mengganjal setelah mendengar penuturan beliau.

Wanita itu menghilang di balik pintu. Aku masih bergeming. Seakan tak percaya semua ini terjadi. Memang sukar untuk di mengerti dan ini semua seperti sebuah sandiwara yang sengaja dibuat untuk menyatukan Madya dan Hakim. Sehingga dibuat seolah-olah sebuah kesalahan dan akhirnya...akulah korbannya.

Mereka terlalu sibuk menjaga hati Madya agar tak terluka. Lalu bagaimana dengan luka hatiku? Adakah yang peduli?

Kuusap air mata yang kembali menetes sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu.

 Aku ingin berpura-pura tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin berpura-pura tidak tahu bahwa sebenarnya Hakim juga menyukaiku. Aku ingin berpura-pura tidak tahu kalau telah terjadi sesuatu yang ganjil di rumah ini. Memang seharusnya Umi maupun Hakim tak memberitahuku, jadi aku takkan seterluka ini.

“Kak Jihan, buruan! Tamunya sudah datang, Kak.” Kepala Madya muncul dari balik pintu kamarku.

Entah kenapa perasaan ini tiba-tiba terasa ganjil pada Madya, ada sedikit iri dihati saat menyadari bahwa ia memang sangat beruntung karena bisa menikah dengan laki-laki seperti Hakim.

“Iya sebentar, kamu duluan aja. Kakak sebentar lagi turun.” Sahutku datar sambil mengenakan kerudung hitam.

“Oke deh, buruan ya, Kak!” ucapnya sekali lagi sebelum pergi.

Hanya kujawab dengan anggukan dan sebuah senyum yang dipaksakan.

***

Aku menuruni anak tangga dengan perlahan. Malas sebenarnya bertemu orang-orang dalam situasi hati seperti ini. Apalagi melihat mereka, Umi, Abi dan Hakim yang seolah telah berkhianat padaku. Mereka telah melakukan sesuatu yang menurutku tidak adil.

Aku sampai di ruang tamu. Semua sudah hadir di sana. Umi berdiri dan menarik tanganku untuk duduk di sampingnya. Ada seorang lelaki asing yang tak sengaja saling bertemu pandang denganku. Hanya beberapa detik sebelum kami sama-sama membuang pandangan. Mungkin dia yang bernama Amran. Orangnya berperawakan tinggi, gagah dan terlihat sangat santun. Ah, lagi-lagi aku merasa minder. Mana mungkin orang seperti dia mau dengan perempuan sepertiku. Dia begitu terplajar dan juga seorang hafizh, bodoh sekali kalau dia mau menerima perjodohan ini.

“Jihan, ini Amran dan keluarganya,” Abi membuka suara.

Aku mengedarkan pandangan pada orang yang dimaksud abi, lalu berusaha tersenyum setulus mungkin.

“Nak Amran, ini dia Jihan yang kita bicarakan tempo hari. Bagaimana?” Tanpa basa basi abi langsung pada pokok permasalahan.

Terlihat laki-laki itu mengangkat kepalanya, menatapku sambil memberikan sebuah senyuman, lalu menoleh pada abi, “iya Om, insyaaAllah...saya bersedia menjadi imam untuk Jihan.” Jawabnya yakin.

Aku terkesiap. Apa aku tidak salah dengar? Amran mau menerimaku? Apa matanya tidak salah lihat?

“Alhamdulillaah.” Ucapan syukur menggema di ruangan itu.

“Kalau begitu kita aka segera tentukan tanggal pernikahan secepatnya.” Pungkas Abi.

Ingin rasanya aku membuka suara tapi lidahku terasa kelu. Hanya ada rasa sesak di dada, ketika melihat rona bahagia terpancar di wajah mereka semua.

Akhirnya aku minta izin pada mereka untuk kembali ke atas setelah beberapa menit aku tak jua mampu mengeluarkan suara. Setengah berlari aku menaiki anak tangga diiringi tatapan sepasang mata teduh. Aku menuju balkon, dan menumpahkan tangisku di sana.

‘Ini tidak adil, sungguh tidak adil! Aku tidak menginginkan lelaki itu, meskipun pilihan Abi tidak akan pernah salah. Tapi...tapi bukankah aku juga berhak mendapatkan apa yang aku inginkan? Seperti Madya? Tak bolehkah aku juga memiliki kebahagiaan seperti dia?’

‘Mereka dengan seenaknya mengatur hidupku tanpa memberiku kesempatan untuk memutuskan. Bahkan saat lamaran itu salah alamat mereka juga tak berusaha memberitahuku atau mencoba memperbaikinya. Kenapa? Kenapa hanya Madya yang berhak bahagia? Apa mereka tidak tahu bagaimana sakitnya hatiku melihat kemesraan Hakim dan Madya? Apa mereka sama sekali tak memikirkan perasaanku?’

“Andai ada yang bisa abang lakukan untuk menghentikan tangismu, maka akan abang lakukan,” tiba-tiba saja Fadil sudah berdiri di depanku. Tatapannya nanar.

Aku terdiam, mengatupkan bibir agar tangis segera berhenti. Lalu melempar pandangan ke langit biru, berharap ia bisa menghentikan lara ini.

“Berusahalah untuk menerima semua takdir Allah, Jihan. Abang tahu ini sulit, tapi jika kamu ikhlas dan berusaha pasti lama-lama akan terbiasa.”

Fadil belum tahu saja apa yang sebenarnya terjadi. Kalaupun dia tahu entah apa yang akan dia lakukan.

“Amran laki-laki baik. Kamu beruntung mendapatkan dia,” Fadil tersenyum memandangku.

“Tapi aku tidak menyukainya,” sanggahku, “aku masih belum bisa menerima kenyataan kalau Hakim adalah adik iparku,” aku kembali menangis. “Aku masih belum bisa melupakannya, Bang. Aku...aku mencintainya dan...” kalimatku terhenti saat mataku menangkap sosok Hakim berdiri terpaku di ambang pintu demi mendengar semua kata-kataku barusan. Fadil pun tampak terkejut karena kehadirannya yang tiba-tiba.

Aku dan Fadil saling berpandangan.

“Maaf kalau kehadiranku mengganggu, tapi Amran dan keluarganya akan segera pulang, mereka mencari Abang dan...kak Jihan,” Hakim pun terlihat gugup.

“Abang saja yang turun, aku mau di sini saja,” ujarku pada Fadil sambil menyusut sisa air mata.

Fadil mengangguk mengiyakan. Lalu melangkah meninggalkanku. Sementara Hakim masih terpaku di tempatnya.

“Sampai kapan kamu mau berdiri di situ?” Tanyaku tanpa menoleh padanya.

“Maaf,” hanya itu yang terucap dari bibirnya.

“Pergilah! Lupakan semua yang kamu dengar tadi!” Tegasku.

“Tidak akan aku lupa, sampai aku melihatmu menikah dan bahagia bersama Amran.” Pungkasnya sebelum melangkah meninggalkanku seorang diri.

Aku membalikkan tubuhku dan hanya bisa menatap punggungnya yang berangsur menghilang dari pandangan.

Dan tangisku kembali pecah.

   ***l

Komentar